Pembelajaran dapat diartikan proses menumbuhkan  dan mengembangkan potensi siswa secara optimal melalui aktivitas terarah dan terencana, sehingga selama dan sesudah pembelajaran siswa memiliki berbagai kompetensi (kemampuan dan keterampilan) sebagai bekal hidup untuk mandiri.

Pembelajaran matematika harus berprinsip pada minds on, hands on, dan contructivism. Hal ini berarti dalam pelaksanaan pembelajaran matematika pikiran siswa fokus pada materi belajar dan tidak memikirkan hal diluar itu, pengembangan pikiran tentang materi bahan ajar dilakukan dengan melakukan dan mengkomunikasikannya agar menjadi bermakna (Peter Sheal,1989).

Belajar matematika yang sebenarnya tidak menerima begitu saja konsep yang sudah jadi, akan tetapi siswa harus memahami bagaimana dan darimana konsep tersebut terbentuk melalui kegiatan mencoba dan menemukan, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian proses pembelajarannya lebih diutamakan daripada hasil belajar sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan siswa bukan mengajar siswa.

Pembelajaran matematika yang bermakana dapat dilakukan dengan cara guru melaksanakan pembelajaran yang dimulai atau dikaiatkan dengan dunia nyata, diawali dengan bercerita atau tanya jawab lisan tentang kondisi actual dalam kehidupan siswa (daily life), kemudian diarahkan dengan informasi melalui modeling agar siswa termotivasi, questioning agar siswa berfikir, constructivism agar siswa membangun pengertian, inquiry agar siswa bisa menemukan konsep dengan bimbingan guru, learning community agar siswa bisa dan terbiasa berkomunikasi berbagi pengetahuan dan pengalaman serta berkolaborasi, reflection agar siswa bisa mereviu kembali pengalaman belajarnya untuk koreksi dan revisi, serta authentic assessment agar penilaian yang diberikan menjadi sangat objektif. Pembelajaran seperti ini tidak akan sulit untuk dilaksanakan jika terbiasa mempraktekkannya, yang penting ada kemauan kuat untuk mengubah dan meningkatkan kualitas diri.

Belajar berkonotasi pada aktivitas siswa atau individu, sedangkan aktivitas individu dapat dipengaruhi oleh kondisi emosional sehingga suasana pembelajaran yang kondusif dalam keadaan nyaman dan menyenangkan sangat diperlukan. Dengan suasana yang kondusif maka muncullah motivasi dan kreativitas yang merupakan cikal bakal aktivitas belajar sehingga potensi siswa akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Suasana belajar yang kondusif dapat diciptakan dengan cara menghargai siswa secara layak dan tidak pernah menyepelekannya, selalu berwajah ramah, tatapan mata penuh kasih, tutur kata lembut menyejukkan, senyum dan sesekali ada canda, menjaga citra diri yang positif, berbicara fokus, bersikap mengajak dan bukan memerintah, nada suara rendah menyenangkan dan gerakan badan tidak dibuat-buat.

Jika seorang guru dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran matematika seperti ini maka diharapkan lenyaplah citra negatif dari pembelajaran matematika selama ini dan proses pembelajaran yang bermakna atau sebenarnya akan terwujud dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

Selain itu juga, agar bisa membelajarkan siswa secara optimal dengan prinsip minds on, hands on, daily life, dan local material sehingga siswa terbimbing dalam mengkonstruksi pemahamannya maka seorang guru harus memahami tentang psikologi belajar, psikologi kognitif, psikologi mengajar, dan psikologi prilaku (psikologi pembelajaran) dan mampu menggunakan media pembelajaran sehingga mampu membantu siswa mengkonstruksi konsep yang bersifat abstrak.

Penggunaan media pembelajaran pun sangat membantu siswa dalam memahami bagaimana dan darimana suatu konsep tersebut terbentuk melalui kegiatan mencoba dan menemukan. Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar siswa. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar).

Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat siswa merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.

Selain itu penggunaan media pembelajaran pun dapat meningkatkan mutu hasil belajar karena terjadi interaksi dalam belajar antara guru dan siswa. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya.

Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.

 

Referensi:

Suherman, E. (2008). Belajar dan Pembelajaran Matematika. Hands-Out Perkuliahan. Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.